Senin, 01 April 2019

Bendungan Harapan

AfterKonseling 4

Melihat kembali ke masa kecil rasanya seperti mencari sesuatu di dalam laci lemari yang hampir usang. Berbagai ekspresi mewakili cerita demi cerita yang ditemukan dalam laci tersebut. Kenangan tentang kasih sayang, kekeluargaan dan perjuangan hidup  juga kesedihan karena kehilangan anggota keluarga muncul kembali dan menimbulkan haru.
Peristiwa hidup yang berlalu meninggalkan kenangan. Mengingatnya kembali akan menimbulkan dua hal, raut wajah terangkat dalam senyum atau wajah tertunduk dalam butiran air mata. Aku mengalami kedua kenangan tersebut secara bergantian. Suka dan duka membentuk pribadiku, mengajarkanku satu hal, yaitu menahan rasa sakit dalam sunyi. Pertolongan pasti akan aku  dapatkan hanya waktu itu mulutku sudah kelu. Pikiranku yang berbicara bukan mulutku. Inilah keanehanku sejak kecil. Rasa sakit yang menimpaku harusnya ku teriakan sekencang-kencangnya tetapi aku malah memilih diam dan memendam semua rasa sakit, kenangan buruk juga rasa sepi. Duniaku berbeda dari anak-anak seusiaku. Hanya memilih seorang sosok untuk dijadikan panutan. Sejak kecil, Kakak perempuan kedua adalah panutanku. Ketika Kakak tersebut meninggal, aku merasa sangat sedih. Terisolasi dari panutanku, aku sepi sendiri. Namun, tidak lama kemudian aku bersahabat baik dengan sepupu perempuan dari keluarga mamaku. Aku sangat senang memilikinya sebagai teman cerita dan bermain saat jam-jam sekolah. Jika waktu sekolah sudah usai, aku kembali mengurung diri di dalam kamarku, membaca komik, buku paket pelajaran sekolah, majalah dan juga Kamus Bahasa Inggris. Begitulah waktu berlalu dihadapanku. 
Rupa-rupanya sejak dulu, pikiranku aktif membendung harapan.  Itulah yang menjadikanku kuat. Harapan tentang suatu masa dimana kehidupanku akan aman dan bahagia. Setiap peristiwa hidup yang aku alami meninggalkan sebuah jejak, yang bernama harapan. Harapan itu seperti batu bata yang aku pakai membangun tembok untuk melindungi diriku. Atas peristiwa duka yang aku alami di masa kecil, aku berharap hitu bukan diriku.

Minggu, 21 Mei 2017

Mendung Pagi !

Detak-detik jam dinding riuh rendah pagi ini,
Mengingatkan waktu yang terus berputar.
Di sudut keheningan, aku mulai mengenang,
Kesan rapuh tentang dirimu. 

Pagi pernah mempersatukan kita, 
Sebagai dua hati yang mencinta.
Pagi pernah merangkai mimpi kita,
Menuju jalan yang selalu bersama.
Pagi pernah mengubah kita,
Menjadi teman hidup bersama. 

Pagi menyimpan cerita tentang kita,
Pagi menyimpan mimpi kita,
Pagi menyimpan rindu kita,
Pagi menyimpan cinta diantara kita.

Pagi tak seharusnya merebut kebahagiaan itu,
Kebahagiaan yang baru dirangkai.
Pagi harusnya kuat bertahan,
Pagi harusnya kuat menahan,
Pagi harusnya bijak melawan.
Pagi harusnya bisa memahami,
Kekuatan bertambah saat kita sengsara.



Pojok,
22.05.17
05.00 WIT
Menyambut pagi dengan sejuta kenangan !


Kala Sepi Berkunjung !

Kala sepi berkunjung, merenung dan mematung,
Kala sepi berkunjung, ku rapuh dan meraung,
Kala sepi berkunjung, relung hatiku mendung,
Kala sepi berkunjung, ruang bantiku mendengung.
Kala sepi berkunjung, rekaman pilu mulai menendang.

Apakah sepi berarti sunyi ? Apakah sepi berarti duka ?
Apakah sepi berarti derita ? Apakah sepi berarti luka ?
Jika sepi tidaklah baik, mengapa ia sering berkunjung ?
Siapa yang mengundangnya ? Apa tujuannya ?

Kala sepi berkunjung, ku ingin segera berlalu,
Kala sepi berkunjung, ku ambil hikmanya,
Kala sepi berkunjung, ku doakan ia tak kembali lagi.

Pojok,
21.05.17 🙆





Bendungan Harapan

AfterKonseling 4 Melihat kembali ke masa kecil rasanya seperti mencari sesuatu di dalam laci lemari yang hampir usang. Berbagai e...